Sunday, September 16, 2012

INSANE

0 comments

Diterjemahkan dan disusun oleh: Mauldina Fauzan



Oke sob, kali ini aku mau berkisah tentang lima tipe kegilaan dari M. R. Bawa Muhaiyaddeen (“Five Common Types of Insanity”): 

"Pada sebuah persimpangan jalan di dekat taman, berdiri sebuah pohon yang teduh. Lima orang dengan lima jenis kegilaan duduk bersama di bawah pohon tersebut. Mereka berbicara dengan diri mereka sendiri. Bagi orang yang berlalu-lalang, lima orang ini terlihat sama, tetapi terdapat alasan yang berbeda atas kegilaan mereka. 

Orang gila pertama yang sakit jiwanya mengambil semua serpihan kertas dan lembaran daun kering yang ada di tanah dan meletakkannya di sekitar tangannya sembari mengoceh, “Kau pergi ke sini, kau pergi ke sana.” 

Orang gila kedua yang terobsesi oleh wanita mengambil semua serpihan kertas dan mengira bahwa kertas itu adalah surat cinta. Dia berkomat-kamit, “Kekasihku menulis ini, kekasihku menulis itu. Kekasihku berkata, ‘Aku akan datang kepadamu!’” 

Orang gila ketiga yang terobsesi pada uang mengambil semua serpihan kertas, melihatnya, membolak-baliknya, dan mengomel kepada dirinya sendiri, “Bank ini, bank itu. Rekening ini, rekening itu. Simpananku.” 

Orang gila keempat yang suka mabuk berjalan sempoyongan di jalan, menabrak orang lain dan benda-benda yang ada di sekitarnya. Akhirnya, dia terjatuh tak sadarkan diri di jalan, dan maling merampok pakaiannya. Ketika dia sadar kembali dia begitu malu, sehingga dia kembali ke rumah, bertengkar dengan istrinya, dan menyalahkan keluarganya atas kesalahannya. 

Tetapi orang gila kelima yang terobsesi oleh kebijaksanaan mengambil sebuah daun kering yang telah mati dan tersenyum dengan sedih. “Sungguh indah ketika engkau masih bersatu dengan batangmu. Pada awalnya engkau adalah sebuah daun indah yang berwarna hijau yang menyejukkan orang lain. Kemudian engkau berubah menjadi kuning, dan saat ini warnamu menjadi sama dengan tanah. Engkau adalah daun kering yang akan kembali ke tanah sebagai pupuk. Setiap orang dan segala sesuatu akan mendapatkan takdir yang sama. Setiap orang dan segala sesuatu menjadi makanan bagi tanah.” 

“Sungguh inilah kehidupan! Oh Tuhan, aku mencari-Mu dan menjadi gila. Engkaulah satu-satunya dokter yang dapat menyembuhkan kegilaanku. Jika Engkau tidak datang, aku akan mati seperti daun ini. Engkaulah Tuhan yang menciptakan, melindungi, dan merawatku. Engkaulah Tuhan yang memahami dan mengerti akan diriku. Berikanlah aku obat rahmat, cinta dan kebijaksanaan-Mu dan penuhilah kebutuhan-kebutuhanku.” 

Makanya pikir-pikir dulu mau jadi orang gila bagaimana di dunia ini. 

Friday, September 14, 2012

Pengabdian Separoh Jalan; Memoar Seorang Santri Cairo (Part 1)

0 comments


Ditulis oleh: Andri Azis (Da Riaz)

“Ada beberapa orang yang hidup dalam dunia impian,
dan ada beberapa orang lainnya yang menghadapi kenyataan;
dan kemudian ada orang-orang yang mengubah salah satu menjadi yang lain”
(Douglas H. Everett)

Ini Tentang Impian, Bung!

Semenjak lama impian sudah menjadi jembatan antara alam nyata dan alam khayalan manusia. Bisa jadi terhadap hal yang belum terjadi dan bisa juga terhadap hal yang justru tak sempat terjadi. Berada pada pilihan manapun, impian cenderung mengembirakan dan memberi tawaran lain terhadap peliknya hidup.

Mesir adalah salah satu negeri yang telah berteman akrab lama dengan impian sebahagian manusia. Ratusan bahkan ribuan orang menjalar masuk dan keluar di negeri Piramida ini setiap harinya. Bagaimana tidak, pemandangannya nan eksotik, situs-situs kuno bersejarah, dan terakhir tawaran tempat belajar murah namun bertaraf “luar negeri”. Saya sangat menyukai ketiga alasan ini, terlebih poin terakhir.

Empat tahun lalu, di sela-sela acara talk show salah satu radio Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir) saya pernah ditanya, “Mengapa Mesir sangat laku di kalangan pelajar Indonesia?” Dan jawaban yang saya berikan tidak lebih lebih dengan tiga poin di atas. Sama halnya dengan saya, sang penyiar juga tertarik terhadap alasan terakhir itu. Lebih tepatnya ingin mengetahui alasan pribadi saya mengatakan hal itu.

“Hanya Mesirlah yang membuat impian untuk belajar di luar negeri santri-santri miskin seperti saya bisa terwujud” Ujar saya ketika itu. Dengan agak terkekeh penyiar itu melanjutkan pertanyaannya: “Apakah alasannya juga sama untuk sisi dan proses secara akademisnya?” Pertanyaan kali ini saya rasakan khusus tertuju untuk saya sebagai ketua KPP MABA ketika itu. Setelah beberapa saat saya akhirnya menjawab, “Mungkin karena Mesir (Al-Azhar) juga tidak mempermasalahkan kemampuan akademis seorang pelajar Indonesia untuk bisa memasukinya” Ujar saya waktu itu. Meski kita akhirnya berbagi tawa namun mood berbicara saya menjadi agak tersendat setelah itu.

Kikuk dan agak-nelangsa. Kira-kira begitu yang saya rasakan setelah menjawab pertanyaan yang cukup menohok itu. Mungkin tak ada yang terlihat ganjil dari jawaban yang saya berikan. Karena yang ganjil itu adalah pada apa yang tertulis pada lembaran-lembaran kertas yang menjadi teman harian kami di KPP. Sesuatu yang terkadang ikut menjadi teman penghibur di antara kepenatan.

Friday, September 7, 2012

Menyapa Kenangan

0 comments

Mari berbagi kisah disini



Veteran Community


Kenangan adalah catatan harian yang selalu kita bawa bersama diri kita.
(Oscar Wilde)

 
Copyright © Rumah Veteran